Di era digital yang serba cepat ini, media sosial telah menjadi wajah utama bagi organisasi sekolah, termasuk bagi pengurus OSIS di SMAN 1 Bogor. Namun, popularitas di dunia maya selalu membawa tantangan tersendiri, salah satunya adalah munculnya kritik pedas hingga ujaran kebencian. Menghadapi situasi ini memerlukan mentalitas yang kuat agar pengurus tidak mudah merasa anti-baper dalam menjalankan tugas pelayanan siswa. Komentar negatif yang muncul di kolom komentar Instagram atau TikTok sekolah seringkali menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan strategi komunikasi yang tepat dan dewasa.
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh tim humas digital adalah melakukan filtrasi terhadap pesan yang masuk. Tidak semua kritik harus dianggap sebagai serangan personal. Pengurus OSIS perlu memiliki cara cerdas untuk membedakan mana kritik yang bersifat membangun dan mana yang hanya sekadar ejekan tanpa dasar. Kritik yang membangun, meskipun disampaikan dengan bahasa yang kurang menyenangkan, sejatinya adalah data berharga untuk memperbaiki kinerja organisasi. Sebaliknya, komentar yang mengandung perundungan atau SARA sebaiknya ditangani dengan ketegasan melalui fitur moderasi tanpa harus membalasnya dengan emosi yang meledak-ledak.
Selain itu, transparansi dalam memberikan klarifikasi adalah kunci utama. Seringkali Anti-Baper muncul karena adanya kesalahpahaman informasi mengenai sebuah program kerja atau kebijakan sekolah. Tim media sosial SMAN 1 Bogor harus sigap memberikan penjelasan yang logis, santun, dan berbasis data. Balasan yang menggunakan bahasa yang “humble” namun profesional akan menunjukkan kualitas intelektual pengurus OSIS. Menghindari konfrontasi terbuka di ruang publik digital adalah langkah preventif agar masalah tidak menjadi viral dengan narasi yang salah. Dengan menjaga tutur kata, OSIS justru bisa membalikkan keadaan dan mendapatkan simpati dari audiens yang lebih luas.
Penting juga bagi seluruh anggota organisasi untuk membangun lingkungan internal yang saling mendukung. Ketika salah satu divisi mendapat serangan di sosmed, divisi lain harus memberikan dukungan moral agar semangat kerja tidak luntur. Kesehatan mental pengurus adalah prioritas, karena performa organisasi sangat bergantung pada kondisi psikologis anggotanya. Melakukan sesi diskusi mingguan untuk mengevaluasi interaksi digital bisa menjadi sarana belajar bersama tentang etika komunikasi masa kini. Pengurus harus menyadari bahwa identitas mereka di media sosial membawa nama baik almamater, sehingga setiap ketikan harus dipertanggungjawabkan dengan matang.
