Kantin sekolah seharusnya menjadi ruang paling demokratis di mana siswa dari berbagai latar belakang berkumpul untuk melepaskan penat setelah jam pelajaran yang melelahkan. Namun, di balik aroma makanan yang menggugah selera dan riuh rendah tawa, tersimpan sebuah fenomena yang memprihatinkan yang sering disebut sebagai sisi gelap kantin di beberapa sekolah di Bogor. Tempat yang seharusnya menjadi area sosialisasi positif ini, justru sering kali bertransformasi menjadi panggung intimidasi di mana struktur kekuasaan antarsiswa ditegaskan secara tidak resmi.
Fenomena perundungan di kantin biasanya tidak terjadi secara fisik yang mencolok, melainkan melalui tindakan-tindakan halus namun menyakitkan. Penguasaan meja tertentu oleh kelompok siswa senior atau mereka yang merasa memiliki status sosial lebih tinggi adalah salah satu bentuknya. Siswa kelas bawah atau mereka yang dianggap “lemah” sering kali merasa terintimidasi hanya untuk sekadar duduk di area tertentu. Di Bogor, karakteristik kantin yang luas dan terbuka terkadang justru menyulitkan pengawasan guru secara mendetail, sehingga celah ini dimanfaatkan oleh oknum siswa untuk melakukan tindakan perundungan verbal maupun pengucilan sosial.
Mengapa hal ini masih terus terjadi meskipun sosialisasi anti-bullying gencar dilakukan? Salah satu faktor utamanya adalah kurangnya pengawasan di jam-jam krusial. Saat bel istirahat berbunyi, ratusan siswa menyerbu kantin secara bersamaan, menciptakan situasi chaos yang membuat perilaku menyimpang sulit dideteksi secara instan. Selain itu, ada semacam “hukum rimba” yang tidak tertulis di mana siswa cenderung diam saat melihat intimidasi terjadi karena takut menjadi target berikutnya. Budaya diam atau bystander effect inilah yang memperkuat sisi gelap tersebut, membuat para pelaku merasa tindakan mereka adalah hal yang wajar atau sekadar candaan remaja.
Pihak sekolah di wilayah Bogor kini mulai mengevaluasi tata kelola kantin mereka. Langkah yang diambil bukan sekadar menempatkan lebih banyak guru piket, tetapi juga dengan melakukan pendekatan psikologis kepada para pemilik stan kantin. Para pedagang diharapkan bisa menjadi “mata dan telinga” bagi sekolah untuk melaporkan jika ada pola interaksi yang tidak sehat antar siswa. Selain itu, pengaturan tata letak kursi dan meja yang lebih inklusif tanpa sekat-sekat kelompok tertentu diharapkan dapat memecah dominasi geng atau kelompok eksklusif yang sering menjadi sumber konflik.
